Thanks My Bedroom

Dear my bedroom, bagiku kau adalh tmn yg menerimaku apa adanya, terimakasih ya..

Padamu aku mengisahkn byk celah hatiku, dan tidakkah kau merasa perih atas itu?

Dear my wall, trimakasih sdh setia tegak di sisiku, aku prnh merasa sesak lalu setelah kuadukan pada Rabbku, masih mengganjal dan tak tau harus kuekpresikan bagaimana? kemudian kau membentangkan dirimu utkku. Ini berarti, trimakasih dindingku. Kau ttp tersenyum dlm diam utk segala coretan kisahku. Itu melegakanku.

Dear pintu2 lemariku, terimakasih sdh bersedia kutempatkan kisahku, kisah yg ingin ku pendam namun terlalu kusayang, trimkasih menyembunyikan luap getar rindu itu, setidaknya mampu meredakanku..



πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸ€
Aku semakin menyadari bhw kisah yg kubagi selain pada catatan2 kecilku, bahasa lisan dan tulisanku utk diriku dan hanya kepada diriku sendiri, bhw ternyata tak banyak yg mampu menerima itu, diluar selainku. Meski mereka telah mencoba bersabar menerima di awal, namun kemudian mereka telah membuatku merasa menjadi pembawa cemeti atau bahkan sebilah pisau? Yg dgnnya mereka dilukai.



Ah.. itu membuatku kelu.. sekaligus merasa menggelayut ragu, sudah sepantasnya aku berhenti dari degup rasa-rasa seperti ini?

Padahal isya tadi, masih kulalui dgn doa yg berjatuhan memanas disudut mataku dan lelagi tersebut nama jiwa dan hati yg telah lama jadi inspirasi.. Bisakah Aku berhenti sesegera ini?

Aku akan berhenti..
Seorang sahabat muda, ia kusapa Dek, membuatku merasa byk hal yg hrs disadari, diresapi, alhmdulillah Allah pertemukan utkku mengintrospeksi diri. Byk hal yg membuatku urung untuk menjadi diriku sendiri disisinya, ia mengajarkanku utk belajar dan bersedia menjadi sosok berbeda, mengikuti ritme inginnya org2 yg sdg bersamaku.



Ia mau aku mnjadi maunya, ya.. bebas dari penggalan kisah masa yg lalu, Tp sekali lagi ia benar, aku harus hidup di kenyataan.


🌾🌾🌾🌾🌾
Satu malam ketika kukisahkn pada wid, kuungkap kegelisahan ini, ia menjawab sungguh bertolak belakang, ia membuatku merasa benar padahal telah kuadukan sudut pandang org lain, bahwa anganggapannya ada yg hrs dibenahi dari diriku, dari fokusku..  "sudahkah aku hidup dlm kenyataan?" Tanyaku padanya setelah kuurai sekelumit cerita..

"Kamu ini nyata!
Egois sekali orang-orang itu, mereka yg tdk bs menerima dirimu, hanya kerena kau bawa kisah  berhargamu, aku paham itu sebab kau hanya ingin berbagi kebahagiaan bukan?" Terang wid menggugahku.. "itu egois fi, kau tak perlu menjadi sosok lain, jk sperti itu dirimu, tetap lah jadi dirimu, gak perlu kau bungkam jika itu bs melegakanmu. Aku.. bersedia mendengarkanmu.."

Malam itu akhirnya menitik berjatuhan buliran yg sejak awal kupaksa menyembunyikannya, aku tak kuasa, wajahku bersimbah basah seketika. Aku tak tau bgmn wid menatapku, aku terlalu malu, ia mendapatiku demikian cengeng, kuseka berulang, kupunggungi ia diantara isakku, wid membiarkanku sejenak larut dalam sesakku, "gak apa jk itu bisa melegakanmu" tangannya menyapu lembut punggungku.

"Gak apa jgn ragu ya, aku akan ada jika kau mau cerita, aku bersedia mendengarkan.." bisiknya diantara dekapan diujung pertemuan itu.

"Cukup wid, Aku harus berhenti dari ini, dari kesia-siaan ini, ttgnya yg kadang hadirkan ingatan lalu menyesakkan, ingatan yg ternyata menyekatku. Maaf membuatmu jadi mendengar kisah ini, dan maksiiih sudah mencerahkanku, ah.. setidaknya kau bersedia kubagi beban ini, lebih ringan, lebih lega rasanya. Makasih sudah mau menerimaku. Namun, Wid sungguh kau tdk akan terluka sebab ceritaku?" Tanyaku khawtir

"Aku tau pasti dimana posisiku, 😊 aku tetap menemukan diriku meski kau berkisah ttg Fa, kau selalu berbinar tiap x menyebut namanya, jgn khawatir padaku itu gak masalah, tp barang kali Tidak  pada org lain." elaknya


Benarlah nasihat bijak Ali Bin Abi Thalib

"Jangan ceritakan dirimu kepada siapapun, sebab orang yg menyayangimu tdk butuh itu, orang yg membencimu tak mempercayai itu"

Detik ini azam itu kian menguat. Bismillah, terimakasih telah menjadi cerminku utk beberapa waktu bersama, utk yg kusapa dek. Kamu khas, kamu istimewa, kamu sesuatu.. 😊


Komentar

  1. Eaaaaak. Dek, kamu itu sesuatu ternyata.

    Fi, Fi. Buatlah ruang² di hatimu sesegera mungkin. Kau bisa menempatkan mereka sesuai dengan kadar getar² rasa yang kau punya, yang kau rasa.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Pertemuan

Tentang Rasa #2

Setengah Isi Setengah Kosong