Kilat, Hadirmu Sederhana

Gemuruh memekik mengejar kilat petir,
Hujan berjatuhan dgn kerapatan yang tak terbilang..
Basah tanah,  basah rumah,
menyisa raga berlindung dibawahnya

Awan menghitam, dapatkah kau lihat bintang?
Ia hanya pendar kilat dari seberang

Jarak menjauhkan langkahmu,
bagiku, kau di sini baru saja,
hanya ketika...
Hadirmu yang sederhana

Aroma hujan menghembus debu yang terkalahkan

Kau di sisi sesaat tadi, lalu menghilang kembali..

Tak taukah engkau?? 
Ini bukan gemuruh langit..
Kilat-kilat sapamu mengerjap menerangi,  lalu menghilang, ia ditelan gulita malam?
Padhal Isya sesaat tadi berkumandang!

hanya ketika...
Hadirmu yang sederhana,

Kutabur tentangmu dalam do'a
Kubungkam dalam sapa,

Jika kesemua hanya karena kubutuhkan saja, biarlah semua tersimpan dalam rahasia, dengan-Nya kukisahkan kesemua
Ku kabarkan pd pemilik-Nya

Seketika kesemua membiru,
ia lembut lalu karam tenggelam
Ini bukan gemuruh langit,
atau hujan untuk bumi,

Hanya hati yang tak mereda karena rinduimu saja

hanya ketika...
Hadirmu yang sederhana,
Sesederhana sapa setulusnya,
Sesederhana tanya atas kabar (saja)

hanya ketika...
Hadirmu yang sederhana,
Sayang, ketulusan terasa awal pemalsuan saja, kesemua tentangmu tak murah,  kesemua tentangmu selalu punya maksud setelahnya.

Rindu bukan lagi milikmu
ia milik masa lalu
Masa yang sapa murni setulusnya
Masa yang rindu hanya karena rindu

Masa yang kesemua apa adanya
Tanpa pamrih,  tanpa iming apa-apa
sederhana,  rindu apa adanya
rindu seadanya, rindu sederhana hanya ketika..
Hadirmu yang sedehana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Pertemuan

Tentang Rasa #2

Setengah Isi Setengah Kosong