Resensi Buku : Ayah…| Buya Hamka, Sikap Hidup yang Penuh Semangat Keilmuan


Judul Buku : Ayah… (Kisah Buya Hamka)
Penulis : Irfan Hamka
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : 2013
Edisi : XIII, Februari 2017
Deskripsi :  xxxviii + 323 hal.; 13.5x20.5 cm.
Oleh   : Luthfia Azmi Oktasari Nst., S.Pd.I

H. Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal sebagai Buya HAMKA seorang yang tidak tamat sekolah umum maupun sekolah agama, yang tak bergelar diploma, namun semangat keilmuannya membawanya menghasilkan begitu banyak karya serta baktinya pada agama dan bangsa.  Kisahnya diuraikan oleh penulis yang merupakan salah seorang  anak kandungnya, ia adalah Irfan Hamka, anak ke-5 dari 12 bersaudara. Buku ini menceritakan kisah Buya Hamka, semasa muda, dewasa, menajadi ulama, menjadi sastrawan, politisi, kepala rumah tangga, hingga ajal menjemputnya.

Buku Ayah… menyuguhkan banyak kenangan, pengalaman, dan kisah luar biasa yang mungkin tak akan kita peroleh selain dari orang-orang terdekatnya. sebagian kecil nasihat dan pengalaman yang dikenang oleh Irfan Hamka selama 33 tahun kebersamaannya dengan Buya Hamka, sang ayah. Kisah-kisah dalam buku Ayah… akan membawa pembaca mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka dari sisi yang berbeda.

Buku ini ditulis untuk menyentuh seluruh kalangan, buku ini hadir agar menjadi salah satu rujukan isnpirasi bagi kehidupan.
Pada bagian Bab Sembilan, Sosok yang begitu masyhur, patriotis, sastrawan, negarawan, ialah ulama, ialah teladan, ialah sosok  Ayah. Buya Hamka memiliki sikap hidup dengan  semangat menuntut ilmu yang mengagumkan, ternyata ia telah melalui masa mudanya dengan kehidupan yang tak mudah, dengan perjuangan yang tak sedikit. Menjawab sebuah pertanyaan penulis pada ayahnya, yang telah berusia senja kala itu, Buya Hamka,  tentang alasan yang mendorong  semangat beliau hingga mencapai titik perjuangan dan puncak pencapaian terbaiknya ini. Beliau menerangkan bahwa itu bersebab,

"Ayah dari kecil banyak mendapat cobaan. Pertama, kedua orang tua Ayah bercerai ketika  Ayah masih memerlukan kasih sayang mereka. Kedua, Ayah yang dikenal sebagai anak laki-laki dapat disebut berwajah rupawan, tiba-tiba terserang penyakit cacar. Kalau waktu itu tidak tahan, Ayah bisa lari dari Padang Panjang. Mungkin jadi pengemis. Ketiga, banyak anak-anak sekolah untuk kelompok masyarakat kelas atas sering melecehkan anak-anak Desa dan Sekolah Agama. Keempat, Ayah sering diejek karena kemampuan bahasa Arab yang Ayah Miliki tidak bagus dan banyak yang salah. Kelima, Ayah ditolak jadi guru di Sekolah Muhammadiyah hanya karena Ayah tidak memiliki diploma sebagai tanda tamat belajar. Oleh karena itu semua, Ayah bertekad untuk terus belajar dan membaca. Mungkin untuk seumur hidup Ayah….”  (hal.238).
Pada Bab lain diceritakan, Sepulangnya dari berhaji dan menimba ilmu di Mekkah selama tujuh bulan, beliau memulai jalan dakwahnya. Jalan dakwah Islam yang kemudian menjadikannya seorang ulama sekaligus sastrawan yang cukup dikenal di negeri ini. Nama penanya Hamka, masyarakat kemudian memanggilnya Buya Hamka.

Ditinjau dari gaya penulisan bukunya beralur maju-mundur sedikit  membuat pembaca merasa tidak nyaman dan berbelit, dibebarapa bagian terdapat kisah yang diulang-ulang, akan lebih baik jika terkronologis berdasarkan urutan waktu. Namun Secara keseluruhan kisah kehidupan Hamka yang dituliskan Irfan Hamka begitu memikat, sarat makna, dan menambah inspirasi terkususnya bagi kaula yang terus berjiwa muda. Sehingga buku ini sangat layak untuk dibaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Pertemuan

Tentang Rasa #2

Setengah Isi Setengah Kosong