Terjawablah Do'a Kita| Sohibati

Siang ini di ruang guru akhwat, ruangan paling ujung searah di sudut pintu gerbang II di sekolah, Din singgah utk menyapaku sebelum ia beramitan pulang, utk pergi mengikuti kajian JR.

Sesungguhnya ini tak biasa ia lakukan, secara ruang kelas dia paling depan dari gerbang 1, melangkahkan kaki ke ruangan guru akhwat yg di ujung bukanlah langkah yg sedikit.

"Fii.. fia seibuk? Ada yg mau saya katakan" sergahnya  sambil berdiri sesaat setelah mengucap salam masuk dan menatapiku yg sedang duduk 'lesehan' di atas karpet merah.

"Gak sibuk, tapi sebantar ya, setelah setor 3 ayat ini, hehe.." jawabku sekenanya sambil meringis senyum tampak gigi, krn emang sdg di hadapan PJ Tahfizku. Sementara ia tetap berdiri menatapi kami tanpa kata.

Setelah PJ tahfiz beranjak menjauh dariku, Din  maju mendekat, membungkukkan tubuhnya lalu duduk di hadapanku, "Fii ada yg mau dikatakan ni.." tatapannya mulai serius, kubalas keseriusannya, kubalas tatapannya, "Hmm..." gumamnya berhati-hati dan semakin melembutkan suaranya agar tak terdengar yg lain, diruangan itu hanya kami bertiga, sementara PJ tahfiz sdg berbebanah di mejanya, memunggungi kami berdua.

Nyaris berbisik di hadapanku, ia berujar, "Saya, akan dikhitbah.. sabtu ini..." kalimatnya terputus-putus menantikan ekspresiku barangkali, seketika Aku terbelalak😳, kaget ⚡⚡⚡, bahagia, bingunglah  mau berekspresi bagaimana, kupaksakan, kulepaskan sesungging senyum 😊 ahh.. Alhmdulillah, gumamku dalam hati. Seketika kulingkarkan kedua lenganku disekitar lehernya, kutenggelamkan wajahku dalam pelukannya, sambil kupanggil namanya berbisik pada telinga kanannya, "Diiinn.. Alhamdulillah" jawabku terharu.
"... fia, hadir ya!" bisiknya berlanjut permintaan.

"Itu tepat pada tanggal 16 April ya? Ahh.. ini-kannnn, apaaa.. tidak apa-apa? apa boleh fia hadir?" krn brgkali hal ini masih sgt rahasia menurutku.

"Saya mau fia hadir nantinya, kitakan berteman dekat, bahkan  teman-teman halaqoh pun blm ada diberi tau, saya mau fia ada di sana, saat saya dikhitbah"

Mendengar hal itu, kudahului dengan selepas senyuman 😊, "insyaAllah.. fia hadir" kujawab melemah dangan rasa yang tiba-tiba jadi gak keruan: antara dominasi bahagia, lega, bingung, terkejut, hingga mendadak kehilangan tenaga, lemaaaaaaas kali tiba-tiba, entahlah bagaimana melukiskan rasa ini. Jika haruskan meraba hati, seperti ada jarum yg menusuk-nusuki. Namun aku berbahagia, krn ini adalah pinta kita.🌺

"Maaf, jika terkesan baru mengabarkannya, tapi saya ingin fia mendengarnya langsung dari saya, bukan dari siapa-siapa, dan baru fia teman yg saya beri tau, Wallahi, bahkan teman sehalaqoh pun belum ada yg tau." tegasnya lagi..

Tanpa kata, kembali kudaratkan dengan sebuah rangkulan lagi. Lalu kubisikkan, "Barakallah, Diin"



Aku turut berdoa dan berbahagia atasmu, engkau.. yg namamu, wajahmu, selalu hadir dalam doa-doaku, semoga yg ini adalah jodoh terbaik bagimu, sudah lama ini adlh doa yg kumunajat, agar ia bertukar doa setelahnya, agar yg ini adalah rebahmu, menepinya hatimu, untuk menetapi, membangun keluarga utk sampai pada cita-cita besar kita.. SURGA.

 ðŸŒ±Uhibbuki fillah Saudariku..
#Kamis, 13/4/2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Pertemuan

Tentang Rasa #2

Setengah Isi Setengah Kosong